Osteoarthritis

Nyeri sendi sering disebabkan oleh peradangan atau disebut arthritis. Jenis arthritis yang paling sering dijumpai adalah osteoarthritis. Osteoarthritis merupakan penyakit pada sendi yang disebabkan oleh bantalan kartilago sendi yang menipis.  Pada sendi synovial terdapat tulang, bantalan kartilago sendi / cartilago articulationes, cairan synovial, ligamen, dan kapsul sendi. Cairan synovial berfungsi sebagai lubrikan/pelumas untuk pergerakan sendi. Ligamen memepersatukan kedua tulang pada persendian. Bantalan kartilago sendi merupakan peredam pada pergerakan sendi dan mencegah kedua tulang bersentuhan saat pergerakan. Kartilago ini tidak mempunyai saraf nyeri.

90% makromolekul matriks ekstraseluler pada kartilago sendi merupakan colagen dan proteoglycan. Struktur tadi memberikan keukatan dan keelastisitasan pada kartilago sendi. Struktur tadi mengalami pergantian dalam waktu tertentu. Proses degenerasi pada kartilago sendi dapat terjadi karena berkurangnya colagen dan proteoglycan diikuti dengan apoptosis chondrosit sehingga kartilago sendi akan menipis.Reaksi pelepasan sitokin-sitokin inflamasi yang terjadi akan menyebabkan  peradangan/arthritis.

Osteoarthritis(OA) sering terjadi pada usia lebih dari 45 tahun. OA sering disebut penyakit “wear and tear”, karena terjadi akibat gerakan berulang pada sendi yang dapat menyebabkan kartilago tererosi dan menipis. Erosi kartilago akan diikuti dengan penebalan tulang subchondral/tulang di ujung sendi, terbentuknya osteofit (tulang yang menonjol) hal ini akan merubah struktur sendi menyebabkan kedua tulang pada sendi saling bersentuhan saat pergerakan (menghasilkan sensasi berderak saat menggerakan sendi). Keadaan yang terus berlanjut akan merusak jaringan lain pada sendi dan menyebabkan pelepasan sitokin-sitokin inflamasi yang kemudian menimbulkan nyeri dan bengkak pada sendi. Erosi dan penipisan kartilago sendiri tidak menimbulkan nyeri karena tidak memiliki saraf nyeri. Selain karena usia faktor penyebab OA yang lain adalah gender (wanita lebih sering terkena dibandingkan pria), trauma sendi, penggunaan sendi yang terlalu berlebihan, obesitas (terutama mengenai sendi lutut karena lutut dipakai untuk menopang berat badan), dislokasi sendi, dan faktor keturunan. Gejala yang timbul adalah nyeri sendi, sendi bengkak, nyeri saat pergerakan, sensasi berderak saat pergerakan sendi (crepitus), pergerakan sendi yang terbatas, nyeri dan kaku sendi setelah lama tidak digerakan biasanya pada pagi hari sekitar 30 menit, perubahan bentuk sendi, dan jika osteofit tumbuh dan menekan saraf maka akan ada gangguan persarafan seperti nyeri radikular, gangguan sensoris, gangguan motorik. Beberapa tempat tersering terjadinya OA dapat dilihat pada gambar di bawah.

sensi-sendi tempat terjadinya OA

OA pada sendi jari-jari tangan

perubahan bentuk sendi lutut

 

Pengobatan untuk OA dibagi menjadi pengobataan non medikasi dan pengobatan dengan medikasi.

Pengobatan non medikasi yang dapat dilakukan:

  • Olahraga. Meliputi olahraga aerobik untuk mengurangi stress pada  sendi dan memperbaiki sistem kardiovaskuler, stretching untuk menambah kelenturan sendi dan memperbaiki jangkauan pergerakan (range of motion), dan strength untuk memperkuat otot sehingga mampu menopang sendi.
  • Mengurang berat badan. Obesitas merupakan faktor predisposisiOA terutama pada sendi lutut
  • Mengurangi makanan berlemak jenuh dan menggantinya dengan lemak tidak jenuh, antioxidant, dan omega 3 yang dipercaya dapat mengurangi peradangan dan mengurangi nyeri
  • Massage dan kompres hangat. Untuk menghangatkan sendi dan mengurangi rasa nyeri

 

Pengobatan medikasi:

  • Diawali dengan acetaminophen.
  • Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) seperti ibuprofen, diclofenac, naproxen, dll
  • Obat penghambat COX2 seperti celecoxib. Digunakan untuk orang yang tidak bisa memakai acetaminophen maupun OAINS akibat kedua obat tadi memiliki efek mengiritasi lambung.
  • Obat topikal seperti Capsaicin
  • Suntikan kortikosteroid atau asam hialuronik intraarticular, dilakukan oleh dokter
  • Pada pemakaian panjang OAINS dapat dibarengi dengan pemberian misoprostol (kontraindikasi pada kehamilan) dan obat penghambat pompa ion proton seperti omeprazole atau pantoprazole untuk melindungi lambung dari erosi.

 

Diagnosis OA dapat ditegakan dari gejala klinis dan pemeriksaan fisik. Terkadang perlu dilakukan pemeriksaan lain berupa foto Xray untuk melihat adanya penyempitan celah sendi, osteofit, dan membedakan OA dengan Rheumatoid arthritis juga mungkin pemeriksaan darah meliputi laju endap darah, C-Reactive Protein, faktor rheumatoid untuk membedakan OA dengan rheumatoid arthritis.