Nausea (mual) dan Vomitus (muntah) pada kehamilan

Nausea dan vomitus pada kehamilan merupakan hal yang sering terjadi. Sebuah studi memaparkan bahwa nausea dan vomitus terjadi pada 50-90% kehamilan. nausea dan vomitus yang berhubungan dengan kehamilan biasanya mulai terjadi pada minggu ke 9-10 gestasi, puncaknya pada minggu ke 11-13, dan membaik pada kebanyakan kasus pada minggu ke 12-14. Pada 1-10% kehamilan, gejala berlanjut sampai minggu ke 20-22. Nausea dan vomitus semakin berat pada kelainan trhopoblastic dan gestasi multipel (ogunyemi,2009).

Hiperemesis gravidarum merupakan nausea dan vomitus yang disertai dengan ketosis dan penurunan berat badan (>5% berat prepregnancy). Hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan deplesi volume, elektrolit, dan keseimbangan asam basa, defisiensi nutrisi, dan bahkan kematian (ogunyemi,2009).

Penyebab nausea dan vomitus pada kehamilan belum jelas. Kehamilan dengan  complete hydatidiform mole (tidak ada fetus) berhubung dengan nausea dan vomitus yang signifikan, hal ini menunjukan ba wa nauea dan vomitus distimulasi oleh plasenta, bukan fetus. Nausea dan vomitus lebih sedikit terjasi pada wanita tua, multipara, dan perokok; penelitian menunjukan volume plasenta yang lebih kecil pada golongan ini. (Niebyl,2010).  Nausea dan vomitus mungkin merupakan suatu mekanisme protektif-hal ini mungkin melindungi wanita hamil dan embrionya dari subtansi berbahaya pada makanan, seperti mikroorganisme pathogen dalam daging dan toksin pada tumbuhan, mekanisme ini bekerja maksimal selama embryogenesis (ogunyemi,2009).  Nausea dan vomitus berhubungan dengan penurunan resiko miscarriage (Niebyl,2010).

Nausea dan vomitus pada kehamilan berkorelasi dengan level  human chorionic gonadotropin (hCG) (gambar 1). hCG dapat menstimulasi produksi estrogren ; estrogen diketahui berhubungan dengan nausea dan vomitus (Niebyl,2010). Estrogen dapat menyebabkan gastric dysrhytmia ; gangguan mioelektrik gaster ini berhubungan dengan nausea, hal lain yang dapat menyebabkan  gastric dysrhytmia adalah kenaikan level progesterone, gangguan tiroid, abnormalitas tonus vagal dan tonus simpatis (ogunyemi,2009). Teori lain adalah kontribusi dari defisiensi vitamin B, karena penggunaan multivitamin yang mengandung vitamin B mereduksi insidens nausea dan vomitus (Niebyl,2010).

Penaganan nausea dan vomitus pada kehamilan dapat dilihat pada gambar 2 dan tabel 1 (Niebyl,2010).

Edukasi pada pasien tentang tanda dan gejala kehamilan mungkin bermanfaat. Sebuah studi menemukan hubungan antara nausea dan vomitus dan kurangnya pengetahuan tentang kehamilan, stress, takut menghadapi kehamilan, dan komunikasi yang buruk dengan dokter dan suami. Perlu diberikan konseling diet seperti mengarahkan pasien untuk makan sedikit-sedikit tidak langsung banyak, menghindari makanan tinggi lemak atau makanan pedas, makan saat lapar tanpa menghiraukan waktu makan normal, dan meningkatkan masukan karbohidrat kering dan minuman berkarbonat (ogunyemi,2009).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s