Hubungan Dokter Pasien – Malpraktik

Kasus dugaan malpraktik saat ini banyak diangkat oleh media, sudahkah anda mengetahui gambaran tentang malpraktik?

Saya akan mencoba menjelaskan sesuai dengan pengetahuan yang selama ini saya miliki.

Hubungan dokter pasien merupakan hubungan pelayanan jasa. Jasa yang dimaksud disini adalah pelayanan medis dengan tujuan membuat atau meningkatkan kesehatan pasien. Seseorang yang sehat akan mampu menjadi produktf dalam hal ekonomi, sosial, maupun aspek kehidupan yang lain. Hubungan dokter pasien menghasilkan suatu kontrak teurapetik. Ada perbedaan antara kontrak teurapetik dengan kontrak-kontrak lain misalnya kontrak jual beli. Jika kita menawarkan barang pada kontrak jual beli dan ternyata kita menipu pembeli dengan memberikan barang yang rusak maka kita dapat langsung dinyatakan bersalah. Dalam kontrak teurapetik hal seperti kontrak jual beli sulit diterapkan oleh karena banyak sekali hal yang mempengaruhi kesehatan pasien dan sesungguhnya hubungan yang terjadi didasari atas motivasi luhur meningkatkan kesehatan pasien. Kontrak teurapetik tidak menjajikan hasil tetapi menekankan pada kesediaan dokter untuk berusaha sekerasnya meningkatkan kesehatan pasien.

Suatu hubungan kontrak akan menimbulkan hak dan kewajiban yang perlu dipenuhi oleh kedua belah pihak bukan salah satu pihak saja. Dokter dan pasien perlu mengetahui tentang kewajiban dan hak apa saja yang ada dalam kontrak. Berikut ini adalah hak dan kewajiban dokter pasien:

Hak pasien:

– Hak atas informasi

– Hak atas second opinion

– Hak atas kerahasiaan

– Hak atas persetujuan tindakan medis

– Hak atas pelayanan kesehatan

– Hak atas ganti rugi

 

Kewajiban pasien:

– Itikad baik

– Memberikan informasi yang adekuat

– Melaksanakan nasehat dokter dalam rangka perawatan atau pengobatan

– Menghormati hak dokter

– Memberikan imbalan dan ganti rugi

– Berterus terang apabila timbul masalah

 

Hak dokter:

– Hak untuk bekerja ‘bebas’ profesional

– Hak menolak tindakan yang diluar standar profesi  atau melanggar etik

– Hak memilih pasien dan mengakhiri hubungan dokter pasien kecuali dalam kondisi darurat

– Hak atas privacy

– Hak atas imbalan

Kewajiban Dokter:

– Kewajiban profesi seperti sumpah dokter, KODEKI, standar perilaku, standar prosedur, standar pelayanan medis

– Kewajiban akibat hubungan dokter pasien yaitu melaksanakan hak pasien

– Kewajiban sosial

 

Dokter atau pasien yang melanggar hak dan kewajibannya dinyatakan melakukan tindakan wanprestasi yang mengindikasikan malpraktik. Bukan hanya dokter yang dapat melakukan wanprestasi pasien pun demikian.

Secara umum seorang dokter dinyatakan malpraktik (praktik yang buruk) jika terdapat unsur 4D: Duty (kewajiban), Derilection of Duty (menelantarkan kewajiban), Damage (kerusakan/kerugian), dan Direct causation (hubungan sebab akibat).

Contoh:

Seorang dokter memutuskan untuk melakukan tranfusi darah karena Hb pasien sangat rendah, keputusan ini disetujui oleh pasien dan keluarga pasien (timbul kontrak teurapetik, timbul kewajiban dokter). Pada saat akan melakukan tranfusi dokter lupa untuk mengecek ulang apakah darah yang akan diberikan sesuai dengan golongan darah pasien atau tidak (dokter menelantarkan kewajiban). Beberapa saat setelah transfusi pasien mengalami reaksi alergi berat yang mengakibatkan biaya perawatan dan lama sakit pasien bertambah (kerusakan/kerugian pasien). Setelah diselidiki ternyata golongan darah donor dan darah pasien tidak sesuai dikarenakan dokter tidak melakukan pengecakan ulang yang menyebabkan pasien mengalami reaksi alergi berat (ada hubungan sebab akibat).

Kasus tadi adalah contoh mal praktek, ada unsur 4D.

 

Bagaimana dengan kasus transfusi darah yang menimbulkan pasien menjadi terinfeksi HIV atau Hepatitis? apakah dokter melakukan malpraktik?

Efek samping dari tindakan transfusi adalah infeksi, meskipun di PMI darah donor sudah dicek terhadap kemungkinan adanya agen2 infeksius didalamnya. Setiap alat memiliki batas kemampuannya untuk mendeteksi suatu penyakit jadi jika kadarnya dibawah batas minimal alat untuk mendeteksi penyakit maka hasilnya adalah normal. Asalkan proses dari donor ke pasien (resipien) memenuhi standar prosedur tidak ada indikasi malpraktik dalam hal ini melainkan hanya Kejadian Tak Diinginkan (KTD).

 

Jarum untuk tranfusi darah menyebabkan pasien merasa kesakitan, apakah malpraktik? jarum yang ditusukan ke kulit normalnya akan menyebabkan rasa sakit sehingga kejadiaan ini bukan malpraktik melainkan Resiko Terikut Tindakan (RTT).

 

Kasus yang sering dianggap malpraktik dalam masyarakat dan diangkat media adalah SJS (Steven Jhonson Syndrome) maupaun TENS (Toxic Epidermial Necrolysis Syndrome). Sindroma (kumpulan dari gejala) ini disebabkan karena reaksi alergi, adanya antibodi dalam tubuh pasien yang bereaksi terhadap obat yang diberikan. Reaksi hebat ini menyebabkan melepuhnya kulit pasien seperti terbakar. Dalam media sering diberitakan seorang dokter malpraktik karena memberikan obat yang tidak cocok padahal dokter tidak selalu melakukan kesalahan pada kasus ini. Umumnya reaksi alergi akan terjadi pada pemberian obat yang ke 2, ke 3, dan seterusnya jarang sekali pada pemberian obat yang pertama kalinya. Bahkan seseorang yang sudah mengkonsumsi obat untuk yang ke 45 kali bisa tidak menimbulkan reaksi alergi kemudian pada pemberian ke 46 reaksi alerginya baru muncul. Dapat disimpulkan bahwa reaksi alergi ini tidak bisa diprediksi, sehingga umumnya kejadian ini adalah Kejadian Tidak Diinginkan (KTD). Beberapa cara coba dilakukan untuk mengurangi kemungkinan ini, misalnya dokter aktif menanyakan pasien adanya riwayat alergi pada pasien (alergi ringan tidak timbulkan SJS atau TENS jika ringan hanya akan ada gejala gatal2, kulit melenting, bibir bengkak), pada pemberian antibiotik golongan penisilin secara injeksi (pakai jarum suntik) biasanya dilakukan skin test terlebih dahulu, dan tidak kalah pentingnya pasien aktif memberitahukan dokter akan riwayat alerginya dan jika ditanya oleh dokter pasien harus menjawab jujur (ingat kewajiban pasien). Jika pasien sudah memberitahukan dokter dan dokter mencatat riwayat alergi pasien di rekam medisnya tetapi tidak dilaksanakan oleh dokternya maka bisa dikatakan malpraktik.

Bagaimana dengan seorang bayi sehat yang setelah melakukan imunisasi mengalami demam tinggi? apakah malpraktik? Imunisasi adalah tindakan memasukan kuman yang telah dilemahkan atau bagian dari kuman atau suatu toksin (racun) yang ditujukan untuk merangsang tubuh pasien menghasilkan kekebalan tubuh untuk penyakit terkait. Normalnya disaat tubuh kita membentuk kekebalan tubuh untuk melawan kuman yang masuk ke dalam tubuh akan terbentuk senyawa2 kimia yang bersifat pirogen (menimbulkan peningkatan suhu tubuh), sehingga demam adalah hal yang wajar. Respon setiap orang berbeda, demam yang terjadi dapat sangat tinggi bahkan sampai pasien mengalami kejang. Hal tersebut termasuk Kejadian Tidak Diinginkan (KTD) selama dokter melakukan tindakan sesuai prosedur diantaranya melakukan wawancara maupun pemeriksaan sebelum melakukan imunisasi untuk mengetahui adanya kontraindikasi (suatu sebab yang menyebabkan tindakan medis tidak dapat diberikan), melakukan tindakan aseptik (tindakan yang meminimalkan adanya kuman kontaminasi dalam tindakan medis) selama melakukan tindakan untuk mengurangi kemungkinan infeksi sampai sepsis (menyebarnya kuman infeksi ke seluruh tubuh sehingga kondisi pasien sangat buruk).

Mungkin tidak semua pasien tahu tentang contoh2 KTD maupun RTT dalam setiap tindakan medis sehingga perlu sekali untuk dokter menerangkan apa yang akan ia lakukan dan apa saja efek baik dan buruknya termasuk kesulitan yang akan dihadapi sehingga pasien akan mengerti dan tidak merasa dibodohi ketika terjadi hal yang tidak diinginkan. Bukan untuk menakut-nakuti tetapi untuk memenuhi hak pasien yaitu hak mendapatkan informasi yang sejelas-jelasnya. Sudah tidak cocok lagi konsep paternalistik dimana dokter dianggap seorang dewa yang berhak mengambil keputusan semua tindakan medis, saat ini tindakan medis kecuali dalam keadaan darurat diputuskan oleh pasien setelah dokter memberikan informasi kepada pasien (proses ini dinamakan informed consent/persetujuan medis).

Pasien dalam hubungan dokter pasien perlu untuk mengetahui hak adan kewajibannya bukan hanya menuntut dokter untuk melakukan hak dan kewajiban dokter. Jika seorang dokter bertanya pasien wajib menjawab sejelas-jelasnya karena sudah merupakan kewajiban pasien. Pasien pun wajib mematuhi nasihat dokter dalam kaitan perawatan atau terapi tidak boleh main2 dalam melaksanakan terapi karena itu adalah kewajiban pasien jika terjadi sesuatu karena pasien tidak patuh yang salah adalah pasien itu sendiri. Dalam melaksanakan terapi akan ada hal2 yang tidak diinginkan misalnya terjadi efek samping obat, disini pasien perlu memberitahukkan dokter tentang reaksi2 yang tidak diinginkan jangan hanya diam saja kemudian setelah parah baru datang ke dokter karena memang sudah kewajiban pasien. Dan terakhir pastikan bertanya kepada dokter jika ada sesuatu yang tidak dimengerti karena hak pasien mendapatkan informasi.

 

 

NB: Perbedaan pengobatan alternatif dengan kedokteran adalah jaminan. Kedokteran tidak menjamin kesembuhan, yang ditekankan adalah prosesnya dimana seorang dokter menjamin akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengobati pasien. Tidak ada dokter yang beriklan, dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit secara cepat….

Jika percaya akan Tuhan: Ada perbedaan teritori antara manusia dengan Tuhan. Teritori manusia dapat dimasuki oleh Tuhan tetapi teritori Tuhan tidak dapat diganggu gugat. Seorang dokter hanyalah manusia biasa, yang belajar dan belajar untuk menjadi perantara Tuhan mendatangkan kesembuhan. Tetapi sebagai seorang profesional, dokter membutuhkan berbagai aturan dalam bertindak….

One thought on “Hubungan Dokter Pasien – Malpraktik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s